MALANG KOTA – Kue semprit Bu Nurul termasuk jajanan legendaris di Kota Malang. Sebab, sudah berdiri sejak 1960 di Kota Malang, proses pembuatannya tetap dilakukan secara manual untuk menjamin jajanannya sehat serta menjaga kepercayaan para pelanggan.

Pelaku UKM (usaha kecil dan menengah) sekaligus pemilik kue semprit Bu Nurul, Novita Amaliah, menceritakan jatuh bangunnya usahanya ini.

Usaha kue semprit Bu Nurul dirintis neneknya, Watini, yang dulunya berjaya dengan mendominasi pangsa Pasar Besar Malang. Tapi, karena terjadi kebakaran membuat usahanya tersebut berhenti dan vakum untuk beberapa saat. ”Lalu, usaha ini diteruskan ibu saya. Saat itu nenek memiliki tujuh bedak dan sebuah pabrik di Pasar Besar Malang, tapi karena kebakaran akhirnya vakum,” ujar Novita.

”Setelah vakum, akhirnya ibu saya (Nurul Fitria, 61, Red) mulai melanjutkan usaha ini lagi sedikit demi sedikit, yaitu dengan menjual untuk tetangga maupun memenuhi pesanan saja,” sambungnya. Hingga saat ini sudah tujuh belas tahun kebangkitan usaha kue semprit ini.

Keunikan dari kue semprit Bu Nurul ini terletak pada proses pengolahannya yang mempertahankan teknik manual dan resep sehat yang turun-temurun. ”Kami dalam pembuatan kue menggunakan minyak tanah karena dipercaya kue akan semakin tanek ketika matang,” kata Novita.

Menurut Novita, kue semprit buatan ibunya menggunakan santan yang direbus dalam waktu yang lama sehingga menghasilkan minyak yang baik untuk menangkal kanker. ”Kami menggunakan santan direbus lama hingga menghasilkan VCO (virgin coconut oil) atau minyak kelapa murni sehingga jajanan kami ini sehat.

Berbeda dengan produk lain yang menggunakan koya,” terang perempuan berumur 40 tahun tersebut. Rasa yang khas dari kue semprit Bu Nurul serta cetakan khusus menjadi andalannya.

Melihat banyaknya pesanan yang datang, Novita melihat adanya prospek yang bagus dari usaha ibunya untuk dikembangkan pada pangsa pasar yang lebih luas. ”Semakin hari pesanan semakin banyak, saya mulai berpikir bagaimana kalau saya beri brand dan mendaftarkan ke dinas supaya lebih tepercaya,” terang penggagas Komunitas Berlian ini.

Setelah mendaftarkan ke Dinas Koperasi dan Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Jatim, Novita memutuskan mengikuti grup UKM Jawa Timur. ”Saya mendapat banyak pengetahuan baru setelah mengikuti UKM Jatim, bahkan saya mengerti mana yang harus dicantumkan dalam brand dan mana yang tidak,” katanya.

Tidak serakah akan ilmu yang diperolehnya, Novita mendirikan Komunitas Berlian agar dapat membagikan informasi yang didapatnya kepada pelaku UKM lain.

Komunitas tersebut juga memberikan banyak informasi tentang UKM dan melakukan berbagai pameran produk.

”Saya sering melakukan pameran dan terakhir saya dipercaya UKM Jatim untuk memasarkan produk saya ke toko oleh-oleh yang ada di Surabaya,” ucap alumnus UM (Universitas Negeri Malang) itu.

”Saat ini dalam sehari saya bisa membuat 15 kilogram kue semprit, berbeda kalau ada pesanan atau bahkan saat Ramadan. Kalau Ramadan, saya bisa bikin 100 kilogram kue semprit, bahkan sering menolak pesanan,” imbuhnya.

Harga yang dibanderol terjangkau. Kue semprit Bu Nurul ada tiga jenis kemasan, yakni mika 250 gram dengan harga Rp 15 ribu, toples 2 ons Rp 20 ribu, dan toples 1 kilogram Rp 75 ribu .

Selain merambah pada pangsa pasar toko oleh-oleh serta supermarket, kue semprit Bu Nurul juga memiliki reseller (orang yang mengambil secara grosir, Red) untuk dijajakan di Kota Malang dan Kabupaten Malang. ”Satu bulan omzet normalnya sekitar Rp 10 juta, tapi kalau hari tertentu bisa dua kali lipat,” tegasnya saat ditemui koran ini di rumah produksinya, Jalan Arif Margono VI.

Adapun bagi pembaca yang berminat terhadap bisnis UKM Novita Amaliah ini bisa menghubungi M Ridho di 082232208566 Jl.Arif Margono gang 6/1573 Malang (nr5/c2/asa)