Gangsar Wijanarko dan Rulianti, Pelaku UKM Roti Bakar Khas Malang

Jajanan roti bakar semakin mudah ditemui di banyak sudut Kota Malang. Tak hanya di resto maupun kafe, roti bakar juga banyak dijual di pinggir jalan. Nah, selain yang khas Bandung, roti bakar kasur Mas Blangkon khas Malang patut dicoba.

Adalah Gangsar Wijanarko dan Rulianti yang mengkreasi jajanan roti bakar khas Malang ini. ”Awalnya hanya ingin menyuguhkan roti bakar yang akan dikenal orang sebagai roti bakarnya orang Malang, sama seperti roti bakar Bandung berarti dari Bandung,” tandas Rulianti saat ditemui koran ini di rumahnya kemarin (31/1).

Ruli–sapaan akrabnya– menjelaskan, salah satu perbedaan roti bakar miliknya dengan yang lain adalah penggunaan bahan dasarnya.

”Rotinya diproduksi sendiri dan menggunakan roti yang manis. Kalau biasanya kan memakai roti tawar,” tambahnya. Roti kasur yang manis ini ketika dibakar juga berbeda dengan roti bakar pada umumnya.



Sebelum disajikan, roti kasur terlebih dulu dibelah menjadi dua sebelum dibakar dan diberi tambahan topping. Jadi, tak hanya memberikan sensasi rasa gurih dari proses pembakaran, tapi juga legit dengan banyaknya topping yang disajikan.

”Rotinya kan sudah manis. Jadi setelah dibelah, dibakar semuanya agar ada rasa gurihnya. Baru diberi tambahan topping sesuai selera,” terangnya.

Ruli menyatakan, rata-rata bisa menjual 45 roti kasur dalam semalam. Memang memakan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatan karena kualitas menjadi tolok ukurnya. ”Pembuatan rotinya sampai hampir pagi, jadi baru mulai jualan sore hari pukul 16.00 hingga habis,” terangnya.

Meskipun roti bakar kasur Mas Blangkon sudah ada stan di Alfamart Mayjen Panjaitan, tapi untuk pembeliannya masih di-dominan oleh Go-Jek. ”Ya, 85 persen dari orderan Go-Food dan sisanya baru dari pembeli yang datang langsung,” ujarnya.

Membuat roti bakar kasur Mas Blangkon populer ternyata tidaklah mudah. Banyak cerita perjuangan yang dirasakan Ruli hingga tak semanis roti bikinannya tersebut. Berawal dari suami yang menggeluti dunia bakery sejak 2003 silam, dicetuskanlah niat untuk membuka usaha sendiri.

”Suami saya dulu kerja di bakery mulai 2003. Tapi karena sudah merasa cukup ilmunya, akhirnya Maret 2017 lalu sepakat mendirikan usaha sendiri,” papar perempuan berusia 36 tahun tersebut.

Awal mula usahanya ini berjalan banyak yang mengklaim akan nama, logo, kritikan tentang tekstur, rasa, dan sebagainya. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka menyerah, justru bangkit untuk mendirikan usaha roti bakar dengan cita rasa yang kuat.

”Kritikan pun saya terima, ada yang bilang katanya bentuk roti, logo, dan namanya mirip dengan lain. Akhirnya saya ganti semua,” ujarnya.

Bahkan, meskipun menuai berbagai kritikan, kini roti bakar kasur Mas Blangkon sudah memiliki dua macam roti dasar, yakni roti kasur putih dan pandan, kemudian pilihan varian fla seperti vanila, durian, pisang. Serta selai stroberi, nanas, mangga, dan aneka topping yang akan membuat konsumen bebas memilih.

”Untuk harganya dibanderol mulai harga Rp 12.000–Rp 22.000 per roti bakar, bergantung pilihan rasa dan topping-nya,” jelas dia.

Pewarta: Silvia Ligan
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Gangsar Wijanarko

  • gerald fernandez

    Enak mana sama Roti bakar Benny yg di Jl. Ijen 94?
    Setau saya yg pertama buat roti bakar kasur di malang punya nya benny dulu deh..