Sepulang sekolah, Puput–panggilan akrab Dwi Puji Wijayaningrum– kerap melihat ibunya merajut berbentuk tas, baju, kopiah, hingga boneka. Puput kecil selalu mengamati, kemudian sesekali bertanya kepada sang ibu. ”Dari situlah saya mulai mencoba menekuni dunia merajut,” ujar Puput saat ditemui di rumahnya, Jalan Bandulan, Malang, kemarin (3/1).

Meski setiap hari belajar merajut, tapi dia mulai terjun ke dunia handicraft setelah masuk SMA. Modalnya adalah uang jajan yang dia sisihkan setiap hari. ”Waktu itu saya mendapat pesanan dari teman sekolah sebanyak 15 biji,” katanya.

Keuntungan dari usaha handicraft tersebut dia kumpulkan untuk tambahan modal. Ordernya tidak pasti. Tapi, Puput tetap menekuni usaha itu. Bahkan, saat kuliah, bisnis handicraft-nya terus berlanjut. ”Meski saya mengambil jurusan di bidang kesehatan, tapi merajut tetap saya tekuni,” tutur alumnus Jurusan Gizi Poltekkes (Politeknik Kesehatan) Kemenkes Malang itu.

Usai menamatkan kuliahnya pada 2012, Puput memperluas jaringannya dengan bergabung di KRM (Komunitas Rajut Malang). Dari komunitas tersebut tercetus brand yang kini telah banyak dikenal orang.

”Teman komunitas sudah banyak yang memiliki brand sendiri. Karena itu, saya mulai terpikirkan namanya. Kemudian saya mengambil nama dari singkatan nama saya menjadi D’PUW Craft,” terangnya.

Setelah memiliki brand tersendiri, Puput lantas mendaftarkan produknya di HAKI (hak atas kekayaan intelektual) melalui Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Provinsi Jawa Timur. ”Pada 2014 lalu disperindag membuka pendaftaran gratis,” kata ibu satu anak tersebut.

Untuk mengenalkan D’PUW Craft, Puput getol mengikuti pameran-pameran. ”Awal mengikuti pameran, saya sempat kecewa karena tidak laku. Tapi, teman-teman memotivasi saya. Katanya yang penting kartu nama tersebar dan nama kita dikenal orang,” kata ibu dari Arshaka Pradipta Jayaditya itu.

Puput pun menggelar workshop hingga melatih ibu-ibu penggemar merajut.

Selain berbagi ilmu, dia berharap mendapatkan rekan untuk diajak kerja sama.  ”Karena orang bisa merajut itu banyak, tapi yang hasil rajutannya sesuai keinginan saya itu yang sulit,” jelasnya.

Barang rajutan yang dihasilkan D’PUW Craft mulai dari aksesori kecil hingga tas ransel. Tidak hanya kebutuhan perempuan, tapi juga menyediakan kebutuhan anak-anak dan pria dewasa. Harganya pun beragam. Mulai dari Rp 5.000–Rp 450.000, bergantung jenis dan tingkat kesulitan pembuatannya.

Ke depan Puput akan memasukkan produknya ke toko-toko buku dan pusat oleh-oleh Malang. Selain itu, dia berharap nanti bisa memberikan pelatihan kepada ibu-ibu yang tidak memiliki kesibukan untuk belajar merajut kepadanya.

Adapun bagi pembaca yang berminat terhadap bisnis UKM DPUW CRAFT (KERAJINAN RAJUT & GANTUNGAN KUNCI) ini bisa menghubungi DWI PUJI WIJAYANINGRUM di 083834398322 Jl. Bandulan, no. 802, 6A, RT 3/RW 3. Sukun, Malang (nr5/c2/dan)